
Ratusan Santri Keracunan, Zulhas Berkata Benahi MBG Sekarang!
Ratusan Santri Di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur, Mengalami Dugaan Keracunan. Maka setelah mengonsumsi makanan yang di sediakan melalui program tersebut. Kasus ini tidak hanya menimbulkan keprihatinan terkait kondisi para korban, tetapi juga memunculkan pertanyaan mengenai sistem pengawasan, pengolahan, hingga distribusi makanan dalam pelaksanaan MBG. Pemerintah pun di minta memastikan kejadian serupa tidak kembali terjadi.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan atau Zulhas mengatakan pemerintah membutuhkan waktu untuk melakukan pembenahan terhadap pelaksanaan program MBG. Ia meminta masyarakat memberikan waktu sekitar dua bulan agar berbagai persoalan dalam program tersebut dapat di perbaiki. Pernyataan itu di sampaikan di tengah evaluasi pemerintah terhadap pelaksanaan MBG yang terus di perluas. Menurut Zulhas, pemerintah tidak ingin program tersebut hanya mengejar jumlah penerima manfaat, tetapi juga memastikan makanan yang di berikan benar-benar aman dan memenuhi standar gizi.
Mulai Mengalami Keluhan Kesehatan
Kasus di Sidoarjo menjadi salah satu alarm penting. Berdasarkan laporan Badan Gizi Nasional (BGN), jumlah penerima manfaat yang terdampak dalam insiden tersebut mencapai lebih dari 500 orang. Sementara itu, sejumlah korban harus menjalani perawatan di rumah sakit setelah mengalami gejala seperti mual, muntah, pusing, lemas, dan diare. Insiden tersebut bermula setelah para santri mengonsumsi menu MBG pada Selasa, 1 September 2026. Menu yang di berikan antara lain nasi putih, telur orak-arik, tumis buncis dan jagung muda, tempe bumbu Bali, serta buah apel.
Beberapa santri kemudian mulai mengalami keluhan kesehatan beberapa jam setelah makan. Gejala semakin banyak muncul hingga pihak pesantren harus mengevakuasi para santri ke sejumlah fasilitas kesehatan. Lebih dari 100 santri sempat di laporkan mengalami gangguan kesehatan, kemudian jumlah korban yang terdata terus bertambah. Pemerintah kemudian melakukan investigasi untuk mencari penyebab pasti kejadian tersebut. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah proses pengolahan dan distribusi makanan.
Ratusan Santri Di Larikan Ke Rumah Sakit
BGN menemukan adanya persoalan dalam penerapan standar operasional prosedur atau SOP. Salah satu dugaan masalah berkaitan dengan waktu makanan selesai di masak hingga makanan tersebut di konsumsi oleh penerima manfaat. Makanan MBG pada dasarnya harus segera di distribusikan dan di konsumsi dalam batas waktu tertentu. Jika proses pengiriman terlalu lama, kualitas makanan dapat menurun dan risiko pertumbuhan mikroorganisme dapat meningkat, terutama apabila pengelolaan suhu dan waktu tidak di lakukan dengan benar.
Zulhas sebelumnya juga menegaskan bahwa tidak boleh ada toleransi terhadap petugas yang terbukti lalai. Ia meminta agar pihak yang bertanggung jawab di berikan sanksi tegas. Bahkan, apabila di temukan unsur kesengajaan, tindakan hukum juga dapat di lakukan.Sementara itu, operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang terkait dengan kasus tersebut telah mendapatkan tindakan penghentian sementara atau suspend untuk kepentingan investigasi.
Penerima Manfaat Harus Dilakukan Sesuai Standar
Kasus Sidoarjo juga menyoroti pentingnya pengawasan terhadap seluruh rantai pelaksanaan MBG. Mulai dari pemilihan bahan makanan, proses memasak, pengemasan, pemberian label waktu, penyimpanan, pengiriman, hingga makanan di terima dan di konsumsi penerima manfaat harus di lakukan sesuai standar. Program MBG sendiri merupakan salah satu program prioritas pemerintah yang menyasar anak-anak sekolah dan kelompok penerima manfaat lainnya. Karena cakupannya sangat luas, sistem keamanan pangan menjadi salah satu faktor yang tidak bisa di abaikan.
Pemerintah sebelumnya juga menemukan masih adanya sejumlah SPPG yang belum memenuhi persyaratan higiene dan sanitasi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pembenahan tidak cukup hanya dilakukan setelah muncul kasus, tetapi harus di lakukan secara sistematis dan berkelanjutan Ratusan Santri.